Welcome to KMI Laboratory

Terima kasih atas kunjungannya

Kamis, 22 April 2010

Integrasi Sains dan Agama

INTEGRASI SAINS DAN AGAMA

Fajar Usman Domiri

Intregasi sains dan agama telah dilakukan pertama kali oleh Islam dengan perintah Allah ”Iqra” yang mengintegrasikan nilai empiris keilmuan dan keagaman secara terpadu. Hingga hal ini mencatat penemuan-penemuan ilmiah yang patut diacungi jempol selama tujuh abad pada masa pemerintaha Bani Umayyah, Abasiyah dan Fatimiyah. Namun perkembangan itu harus tertunda atas terjadinya serangan pasukan Mongol dan laskar-laskar salibis yang meruntuhkan orientasi keilmuan dan kekuasaan Islam. Dan hasilnya pengembangan ilmu pengetahuan terhenti yang kemudian disambung dengan pola fikir individual (tasauf) dan kebangkitan dari pengkajian ini terjadi saat Hulagu Khan memeluk agama islam.

Daulah non Arab kurun kedua bangkit yaitu, Utsmani, Mughal dan Syafawi yang menekankan ilmu seni, filsafat dan budaya. Maka tak aneh jika kekuatan daulah Islam kedua dapat dikalahkan oleh tentara Imperialis Eropa yang justru teknologi yang banyak mereka kembangkan untuk mengalahkan daulah Islam kedua adalah hasil dari teknologi empiris daulah pertama yang berhasil mereka curi denga penuh rasa benci dan kekejaman.

Takluknya kebudayaan islam oleh kebudayaan Barat menjadikan nilai islam termarginkan dengan didirikannya sekolah-sekolah yang membahas masalah teknologi tanpa nilai agama sehingga menjadi sekular. Dan hal ini dianggap sebagai realitas kultural progresif oleh masyarakat Islam terjajah sebagai sarat mendapatkan ilmupengetahuan dan teknologi yang tak mungkin dapat diubah. Begitu pula sebaliknya lembaga-lembaga pesantren pedalaman merasa tak perlu dengan pengembangan ilmu alam dan mereka terpaku dengan manuskrip-manuskrip ilmu agama saja dan hal ini terus berlangsung sampai sekarang.

Perbedaan antara sains dan agama

Dalam paragraf ini penulis akan merumuskan beberapa perbedaan mendasar antara sains dan agama. Diantaranya, seorang saintis harus memiliki sifat tak mudah percaya terhadap suatu postulat, misalnya saat seseorang mengatakan bahwa air selalu mengalir dari tempat yang lebih tinggi ke tempat yang lebih rendah maka dia tidak langsung percaya terhadap postulat itu sebelum dia melihat pembuktiannya. Sementara agama tentu saja sangat berbeda, seseorang yang beragama harus percaya pada otoritas tuhan meskipun tidak mudah untuk dimasukan kedalam rasio. Dalam agama kepercayaan menjadi keutamaan.

Selanjutnya, seorang ilmuan jika memberikan pandangan-pandangan baru yang masuk akal dengan bukti faktual dan meyakinkan maka pandangannya akan mudah diterima oleh sains, Adapun agama sebaliknya, walaupun dalam agama Islam dikatakan bahwa manusia adalah hayawanunatiq namun rasionya tidak diperbolehkan unyuk memikirkan pemahaman-pemahaman baru untuk nilai-nilai agama yang telah ada.

Saat sains dan agama saling mendukung.

Seperti telah kita ketahui bahwa ilmu sains sangatlah kritis saat mengambil sikap dalam mencari kesimpulan. Sikap kritis itu sangat berguna untuk mengelupaskan nilai-nilai ilusorif agma. bukan untuk memarginalkan agama tapi untuk memilah hal-hal esensial dari agama dengan hasil terkelupasnya hal-hal ilusoris dari agama yang member kesan bahwa agama oversensitif sehingga mudah menimbulkan konflik. Akhir-ahir ini banyak orang yang mengemukakan bahwa dirinya telah diberikan wahyu oleh Allah -sebagai nabi terahir- disamping itu banyak pula penyimpangan penafsiran dalam Al-Quran dan Al-Hadist, dengan kemampuan logis dan kehati-hatian dalam mengambil kesimpulan kita bisa menyikapi hal-hal diatas secara kritis.

Saat realitas dan pengalaman batin yang memiliki nilai tinggi dan tak dapat disentuh oleh ilmu sains, maka agama lah yang bisa menyentuh nilai-nilai realitas dari pengalaman batin seseorang. Agama juga sebagi pemberi inspirasi bahwa manusia lebih berharga dari ilmu pengetahuan. maka saat manusia harus mengorbankan saudaranya demi sebuah teori eksperimen maka agamalah yang harus pertamakali menentangnya. Agama juga dapat memberi kemungkinan terhadap sains tentang hal-hal supranatural yang belum tersentuh oleh sains sehingga menambah wacana dalam sains. Dan masih banyak lagi peluang-peluang besar yang terjadi setelah terbentuknya integrasi antara sains dan agama.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar